Bismillaah
Pada tulisan yang lalu telah kita ketahui pengertian nuzulu al-Qur’an serta tahapan nuzul nya (baca disini), akan tetapi pembahasan tersebut tentu belum membuat nalar rasional kita berhenti bertanya hingga kita dapat mengimani nya dengan bukti rasional dan penuh kesadaran tanpa dogma sebagaimana sebagian orang hanya menerimanya begitu saja tanpa merenungi peristiwa terjadi nya dengan kacamata nalar kritis, bagaimana hal tersebut ia katakan sebagai sebuah keimanan dan mengklaim dirinya telah mengimani nuzulu al-Qur’an? Sedang keimananan melazimkan bukti secara rasional!. Pada tulisan kali ini penulis berusaha menguraikan beberapa hal yang hingga saat ini menjadi pertanyaan bagi sebagian orang yang belum mengenyangkan perut yang lapar, serta belum menghilangkan dahaga di Tengah Terik nya matahari disiang hari.
Bagaimana Allah menyampaikan wahyu al-Qur’an kepada malaikat Jibril?
Pembahasan ini merupakan bagian dari umur gaibiyyat maka untuk menjawabnya kita dapat merujuk pada riwayat yang sahih, atau menukil dari pandangan para ulama, diantara nya:
Pandangan Pertama: Imam ath-Thibi berkata:
قال الطيبي: لعل نزول القرآن على المللك أن يتلقف تلقفا روحانيا أو يحفظه من اللوح المحفوظ، فينزل به على النبي فيلقيه إليه.
"Mungkin turunnya al-Qur'an kepada malaikat terjadi dengan cara ia (malaikat) menangkapnya secara ruhani atau menghafalnya dari Lauḥ Maḥfūẓ, lalu ia turun dengannya kepada Nabi dan menyampaikannya kepadanya."
Dari atsar riwayat ini ada dua hal yang dapat kita kaji, Pertama penggunaan "لعل" dalam pernyataan imam ath-Thbi ini menunjukkan adanya unsur tarajjī (dugaan atau kemungkinan), yang tentu kurang memberikan kepastian yang memuaskan dalam menjelaskan mekanisme nuzulu al-Qur’an. Maka dari itu kita dapat melihat bahwa imam ath-Ṭhībī disini tampaknya ingin memberikan gambaran spekulatif saja mengenai bagaimana malaikat menerima al-Qur’an sebelum menyampaikannya kepada Nabi, akan tetapi penggunaan "لعل" menunjukkan bahwa ini bukan penjelasan definitif, melainkan sekadar ihtimāl (kemungkinan) saja.
Kedua Ungkapan "تلقف تلقفًا روحانيًا" yang digunakan oleh al-Ṭībī dapat diterjemahkan sebagai "menangkap (menerima) dengan cara ruhani". Secara bahasa, kata تلقف berarti menangkap sesuatu dengan cepat atau menyerapnya, sedangkan روحانيًا menunjukkan aspek yang bersifat spiritual atau non-fisik. Dalam konteks nuzulu al-Qur’an, lafadz ini mengisyaratkan bahwa malaikat Jibril menerima wahyu al-Qur'an dari Allah dengan cara yang tidak bersifat fisik atau material, melainkan dengan pemahaman langsung yang bersifat ruhani.
Jika kita menelisik lebih dalam makna "تلقفا روحانيا" dalam konteks wahyu maka ada beberapa kemungkinan:
Pertama, Penerimaan Langsung Tanpa Perantara Lisan, dalam hal ini malaikat tidak menerima wahyu dalam bentuk suara atau tulisan, tetapi dalam bentuk pemahaman ruhani yang langsung tertanam dalam jiwanya, Ini sesuai dengan sifat malaikat yang bukan makhluk fisik seperti manusia, sehingga proses penerimaan ilmu bagi mereka berbeda dari manusia.
Kedua, Pemahaman Sempurna dan Seketika, dalam artian malaikat tidak mengalami proses belajar atau menghafal seperti manusia, tetapi langsung memahami makna dan isi wahyu saat menerimanya dari Allah. Ini berbeda dengan manusia yang membutuhkan proses bertahap dalam memahami suatu ilmu.
Ketiga, Penyampaian Ilahi yang Tidak Bisa Dijangkau oleh Akal Manusia, Konsep ini mirip dengan bagaimana para nabi menerima wahyu dalam keadaan yang tidak bisa sepenuhnya dijelaskan dengan hukum empiris, dalam hal ini malaikat Jibril, bisa jadi ia menerima al-Qur'an melalui metode ilahi yang hanya dapat dipahami oleh makhluk dari alam malaikat.
Pandangan kedua: imam al-Baihaqi berkata:
قال البيهقي في معنى قوله تعالى إنا أنزلناه في ليلة القدر يريد إنا أسمعناه الملك وأفهمناه بما سمع
"Al-Baihaqī berkata mengenai makna firman Allah surah al-Qadr 1 “Sesungguhnya Kami telah menyampaikannya pada malam Lailatul Qadr", Maksudnya ialah: "Sesungguhnya Kami telah memperdengarkan nya kepada malaikat dan memahamkan nya atas apa yang ia dengar."
Dari pernyataan ini kita mengetahui bahwa malaikat Jibril menerima atau mengambil al-Qur’an dari Allah dengan cara mendengarkan nya langsung, pernyataan ini berlandaskan hadist Nabi Saw:
إذا أراد الله تعالى أن يوحي بالأمر تكلم بالوحي أخذت السموات منه رجفة شديدة من خوف الله، فإذا سمع ذلك أهل السموات صعقوا وخروا سجدا فيكون أول من يرفع رأسه جبريل، فيكلمه الله من وحيه بما أراد. فينتهي إلى الملائكة فكلما مر بسماء سأله أهلها: ماذا قال ربنا؟ قال الحق، فينتهي به حيث أمره الله.
“Jika Allah Ta'ala hendak mewahyukan suatu perkara, Dia berbicara dengan wahyu. Maka langit bergetar hebat karena rasa takut kepada Allah. Ketika para penghuni langit mendengar hal itu, mereka pun pingsan dan bersujud. Lalu, yang pertama kali mengangkat kepalanya adalah Jibril. Maka Allah berbicara kepadanya dengan wahyu-Nya tentang apa yang Dia kehendaki. Kemudian Jibril menyampaikan wahyu itu kepada para malaikat. Setiap kali ia melewati suatu langit, para penghuninya bertanya kepadanya: "Apa yang dikatakan Tuhan kita?" Jibril menjawab: "Dia berkata dengan .kebenaran." Kemudian Jibril menyampaikan wahyu itu hingga ke tempat yang diperintahkan oleh Allah.”
Akan tetapi makna أسمعناه الملك وأفهمناه بما سمع dalam pernyataan imam al-Baihaqi diatas tidak dapat ditafsirkan sebagaimana seseorang yang memperdengarkan dan memahamkan perkataan nya dengan orang lain karena hal tersebut melazimkan sifat jism pada zat Allah, maka dari itu pandangan imam al-Baihaqi ini dapat kita kaitkan dengan pandangan imam ath-Thibi diawal bahwa makna "تلقفا روحانيا" dalam konteks wahyu ialah Penyampaian Ilahi yang Tidak Bisa Dijangkau oleh Akal Manusia dalam proses nya, dan sebagaimana telah disampaikan diawal bahwa konsep ini mirip dengan bagaimana para nabi menerima wahyu dalam keadaan yang tidak bisa sepenuhnya dijelaskan dengan hukum empiris, dalam hal ini malaikat Jibril, bisa jadi ia menerima al-Qur'an melalui metode ilahi yang hanya dapat dipahami oleh makhluk dari alam malakut. Wallahu ‘Alam.
Darb Dalil, 25 Ramadhan 2025
Muhammad Miraj
Komentar
Posting Komentar