Langsung ke konten utama

Nuzulu al-Qur'an Part 1 (Pengertian dan Tahapan nya)

Bismillaah…
Tak terasa bulan Ramadhan telah memasuki separuh akhir dari perjalanan nya, bulan yang didalam nya penuh dengan keberkahan yang melimpah, bulan yang didalam nya diampuni segala dosa, dan juga bulan Dimana al-Qur’an kali pertama diturunkan ke bait al-Izza, yang dari peristiwa monumental ini juga yang menandai awal dari wahyu yang diterima oleh baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai bukti kenabian, dan juga sebagai dalil bahwa al-Qur’an bukan lah karangan malaikat Jibril ataupun Nabi SAW. 
Dan pengetahuan tentang nuzul al-Qur’an merupakan asas dalam keimanan kita terhadap al-Qur’an. Namun bagaimana peristiwa Nuzul al-Qur’an tersebut terjadi? Dan apa kaitan nya dengan malam laila al-Qadr? Berikut Ulasan nya.
Nuzul al-Qur’an
Pengertian
Dalam banyak kitab lughah, Lafadz نزل dalam konteks Nuzul al-Qur’an mengarah pada makna turun nya sesuatu dari atas ke bawah, akan tetapi pemaknaan ini tidak sesuai dengan eksistensi al-Qur’an sebagai kalamullah yang qadim, bagaimana mungkin kalamullah yang qadim itu turun dari tempat yang tinggi sebagaimana naik atau turun nya makhluk? Maka dari itu lafadz نزل dalam konteks ini tidak dapat dimaknai secara dzahir, akan tetapi harus dimaknai secara majaz agar al-Qur’an sebagai kalamullah yang qadim tidak disamakan dengan makhluk. Lantas apa makna نزل secara majazi?
Dalam bentuk majaz turun nya al-Qur’an dimaknai sebagai suatu proses penyampaian wahyu dalam bentuk lafadz sebagai dal dan wahyu sebagai madlul yang kemudian lafadz ini tersimpan di lauh al-Mahfud, disampaikan dalam bentuk lafadz agar dapat dipahami isinya, karena tidak ada yang dapat mengetahui wujud asli kalamullah tanpa perantara lafadz, maka dari itu para ulama ilmu kalam membagi kalamullah menjadi dua bentuk, kalamullah yang bersifat kalam nafsi dan kalam ini bersifat qadim, dan yang kedua kalamullah dalam bentuk kalam lafdzikalam lafdzi inilah yang kita baca hingga detik ini.      
Tahapan dan proses penyampaian nya kepada Nabi Saw
Dalam banyak riwayat tentang nuzul al-Qur’an terdapat tiga proses nuzul nya:
Pertama: tersimpan nya di lauh al-Mahfudz
Didalam al-Qur’an sendiri proses ini tersampaikan dalam ayat 
بَلۡ هُوَ قُرۡاٰنٌ مَّجِيۡدٌ ۙ‏ ٢١ فِىۡ لَوۡحٍ مَّحۡفُوۡظٍ‏ ٢٢
Pada tahapan awal ini tidak ada yang mengetahui proses kapan dan bagaimana tersimpan nya kalamullah di lauh al-Mahfudz kecuali Allah Swt. Dan dalam tahapan ini al-Qur’an diturunkan secara sempurna dan menyeluruh dari awal hingga akhir.
Kedua: tersampaikan nya ke bait al-Izza
Pada tahapan kedua ini juga terisyaratkan didalam al-Qur’an dalam beberapa ayat 
(اِنَّاۤ اَنۡزَلۡنٰهُ فِىۡ لَيۡلَةٍ مُّبٰـرَكَةٍ اِنَّا كُنَّا مُنۡذِرِيۡنَ)‏  الدخان ٣
(اِنَّاۤ اَنۡزَلۡنٰهُ فِىۡ لَيۡلَةِ الۡقَدۡرِ ۖ ۚ‏) القدر ١
(شَهۡرُ رَمَضَانَ الَّذِىۡٓ اُنۡزِلَ فِيۡهِ الۡقُرۡاٰنُ )  البقرة ١٨٥
Dari tiga ayat diatas menunjukkan bahwa al-Qur’an tersampaikan ke bait al-Izza secara keseluruhan dalam satu malam, yaitu malam Lailatu al-Qadr sebagaimana dalam surah al-Qadr atau Laila mubaarakah dalam surah ad-Dukhan dan malam ini terdapat pada bulan suci Ramadhan sebagaimana pada surah al-Baqarah. 
Dari sini dapat kita simpulkan bahwa malam lailatu al-Qadr tidak melazimkan terjadinya nuzul al-Qur’an,  sebab tersampaikan nya di bait al-izza secara menyeluruh dalam sekali malam lailatu al-Qadr saja dalam artian pada malamlailatu al-Qadr selanjut nya pada Ramadhan setelah nya tidak ada lagi nuzulu al-Qur’an di bait al-Izza, begitupun sebaliknya nuzulu al-Qur’an tidak melazimkan terjadi nya pada malam lailatu al-Qadr sebab tidak semua ayat tersampaikan kepada Rasulullah Saw pada bulan suci Ramadhan bahkan beberapa ayat tersampaikan pada siang hari.
Pernyataan diatas berdasarkan pada riwayat ibn ‘Abbas ketika ditanya oleh ‘Athiyyah bin al-Aswad, beliau berkata: (terdapat keraguan pada hatiku mengenai ayat شَهۡرُ رَمَضَانَ الَّذِىۡٓ اُنۡزِلَ فِيۡهِ الۡقُرۡاٰنُ dan اِنَّاۤ اَنۡزَلۡنٰهُ فِىۡ لَيۡلَةِ الۡقَدۡرِ , sedang (beberapa ayat) tersampaikan (kepada Rasulullah saw) pada bulan syawal, pada bulan dzulqa’dah, pada bulan dzulhijjah, pada bulan Muharram, dan safar, dan pada bulan rabi’. Kemudian ibnu ‘Abbas menjawab: sesungguhnya al-Qur’an tersampaikan (di bait al-Izzah) pada bulan Ramadhan pada malam lailatu al-Qadr secara menyeluruh, kemudian tersampaikan (kepada Rasulullah) pada bulan-bulan lain nya dan hari-hari nya.)
Ketiga: tersampaikan nya kepada Rasulullah Saw
Tahap ketiga ini merupakan tahapan akhir dalam proses nuzul al-Qur’an, dan dalam tahapan ini malaikat Jibril bertugas sebagai penyampai wahyu dari bait al-Izzah kepada Rasulullah Saw secara berangsur angsur yang dimulai dengan turun nya ayat pertama sampai kelima pada surah al-‘Alaq dan diakhiri dengan ayat 281 pada surah al-Baqarah, proses ini telah diisayaratkan didalam al-Qur'an pada ayat وَقُرۡاٰنًا فَرَقۡنٰهُ لِتَقۡرَاَهٗ عَلَى النَّاسِ عَلٰى مُكۡثٍ وَّنَزَّلۡنٰهُ تَنۡزِيۡلًا‏) الإسراء ١٠٦). Wallahu ‘Alam 
 
 
Darb Dalil, Darrasah 20 Ramadhan 25
Muhammad Miraj 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

apa itu qiraah asyarah sugra dan kubra?

Bismillah...      Pada masa kekhalifaan Usman bin Affan periwayatan al-Qur’an dengan berbagai ragam bacaan nya telah menemukan titik terang nya pasca ditetapkan nya tiga kaidah baku yang telah ditetapkan oleh khalifah dan para tim penulis wahyu, terlebih saat beliau kembali memerintahkan para ulama delegasi beliau diutus kembali ke amsar,  baca: tujuh kota pusat perkembangan islam.   Ditangan para delegasi inilah kemudian lahirlah para imam qiraat sepuluh yang sampai pada kita hari ini, dimana dari kesepuluh imam tersebut terdapat dua murid yang masyhur dikalangan para ahlulqurra pada masa itu yang kemudian meriwayatkan dan kemudian memberikan kaidah bacaan yang mereka dapatkan dari gurunya, diantara mereka ada yang berguru secara langsung dan juga diantara mereka ada yang berguru melalui perantara, inilah yang disebut dengan periwayatan   bil washitah.  Penetapan para perawi ini berdasarkan kredibilitas dan juga kemasyhuran para perawi nya, sehigga ji...

Penamaan Surah-surah al-Qur'an, ijtihadi atau tauqifi?

Bismillah..  Al-Qur’an merupakan kitab suci yang didalam nya banyak terdapat kemukjizatan-kemukjizatan dari berbagai sisi, mulai dari sisi bahasa, rasm, urutan ayat serta surah-surah didalam nya, hal tersebut telah dibahas oleh para ulama hingga para cendikiawan-cendikiawan muslim dibidang nya masing-masing yang kemudian memberikan kesimpulan penegasan bahwa kitab suci al-Qur’an bukan lah hanya sekedar kitab bacaan yang dibaca siang dan malam, melainkan merupakan sebuah kitab yang dari permulaan hingga akhir bahasan nya penuh dengan kemukjizatan.               Termasuk juga diantara kemukjizatan nya ialah penamaan nya yang masih menjadi pembahasan yang cukup hangat dikalangan para pengkaji al-Qur’an hari ini, akan tetapi jauh sebelum itu para ulama terdahulu sudah lebih dulu membahas dan memberikan pandangan nya masing-masing dengan berlandaskan dalil-dalil yang kuat. Dari sana mereka memberikan dua simpulan yang berb...

Pembagian al-Qur'an menjadi beberapa Juz, Hizb, & Ruku'

Bismillah… Al-Qur’an merupakan mukjizat terbesar yang diturunkan Allah kepada Rasulullah Saw. Dengan berbagai kemukjizatan yang tersaji didalam nya baik dari segi uslub, bahasa, hingga  sastra, tak membuat para ulama cendikiawan berhenti dalam penelitian nya mengkaji al-Qur’an. Hingga pada tulisan kali ini kita akan sedikit membahas mengenai pembagian al-Qur’an menjadi beberapa bagian seperti pembagian yang kita kenal dengan istilah Juz, Hizb, ataupun Rubu’, dan Ruku’. Pada masa Rasulullah sendiri, pembagian-pembagian yang telah kita sebutkan belum ada pada masa itu, sehingga dalam beberapa Riwayat seperti pada Riwayat Aus ibn Hudzaifah dikatakan bahwa para sahabat membagi al-Qur’an menjadi tujuh bagian. Bagian yang  pertama  terbagi menjadi tiga surah, yaitu al-Baqarah, ali Imran, dan an-Nisa. Bagian  kedua  terbagi menjadi lima surah, yaitu al-Maidah, al-An’am, al-‘Araf, al-Anfal, dan at-Taubah. Bagian  ketiga  terbagi menjadi lima surah, yaitu ...