Langsung ke konten utama

Al-Qur'an dan Lahjah Arab Part 1

 

Bismillah.
    Dalam khazanah keilmuan Islam, Al-Qur'an bukan hanya sekadar kitab suci yang menjadi pedoman hidup umat Muslim, melainkan juga sebuah karya sastra yang kaya akan keindahan bahasa dan variasi bacaan. Qiraat Al-Qur'an, yang merujuk pada cara-cara membaca Al-Qur'an, memiliki kedalaman dan keragaman yang mencerminkan kekayaan budaya Arab yang berakar sejak zaman Nabi Rasulullah SAW. Setiap qiraat memiliki ciri khasnya tersendiri, yang tidak hanya mempengaruhi pelafalan, tetapi juga makna yang terkandung dalam suatu ayat. Maka dari itu, penting untuk memahami bahwa lahjah Arab—variasi dialek dan aksen yang ada di dunia Arab—berperan signifikan dalam pengembangan dan penyebaran qiraat. 
    Perkembangan lahjah Arab tidak terlepas dari faktor sejarah dan interaksi antarbudaya. Perdagangan, migrasi, dan penaklukan telah banyak membawa pengaruh dari berbagai suku dan bangsa, yang kemudian memperkaya kosakata dan pengucapan dalam bahasa Arab. 
    Pada tulisan yang lalu, kita sudah mengetahui bahwa salah satu makna yang tercangkup pada lafadz “sab’ah ahruf” ialah perubahan lahjah yaitu dialek, seperti imalah, taqlil, idgham, idzhar dan lain-lain. Baca disini
Adapun pada tulisan kali ini kita akan sedikit berfokus pada lahjah dan keterikatan nya dengan bacaan atau qiraah Al-Qur’an. 
Pengaruh Lahjah Arab terhadap Bacaan Al-Qur'an
    Ketika membahas tentang bacaan Al-Qur'an, penting untuk memahami bahwa Al-Qur'an diturunkan dalam bahasa Arab. Bahasa Arab yang digunakan dalam Al-Qur'an adalah bahasa Arab yang paling fasih yang secara umum digunakan oleh suku Quraisy, suku yang menjadi tempat Rasulullah SAW berasal. Namun, didalam al-Qur’an juga terdapat beberapa lafadz yang tidak menggunakan bahasa arab yang fasih atau tidak masyhur pada masa itu, sebagaiamana yang kita ketahui bahwa bahasa Arab pada masa itu tidak homogen; dalam artian terdapat berbagai dialek yang digunakan oleh kabilah-kabilah Arab lainnya. Beberapa dialek ini dianggap fasih dan luas penggunaannya, sementara yang lain dianggap syadz (tidak masyhur) karena hanya digunakan oleh kabilah atau suku tertentu saja.
Maka dari itu perkembangan qiraat Al-Qur'an dimulai pada masa Rasulullah SAW, seiring dengan semakin banyaknya orang dari kabilah-kabilah non-Quraisy yang memeluk Islam. Hal ini mendorong mereka untuk mempelajari Al-Qur'an, yang pada umumnya saat itu dibaca dengan dialek Quraisy. Namun, bagi sebagian kabilah non-Quraisy, pelafalan Al-Qur'an dengan dialek Quraisy dirasa sulit karena perbedaan fonetik dan kebiasaan linguistik yang mereka miliki. 
    Menyikapi hal ini, turunlah perintah dari Allah SWT yang membolehkan membaca Al-Qur'an dengan dialek selain Quraisy. Kebolehan ini diberikan sebagai bentuk kemudahan (rukhsah) bagi umat Islam saat itu, terutama bagi mereka yang berasal dari kabilah-kabilah dengan dialek yang berbeda. Namun, penting untuk dicatat bahwa kebolehan ini tidak berarti Al-Qur'an bisa dibaca dengan sembarangan atau tanpa aturan. Setiap bacaan yang diizinkan tetap harus berdasarkan bimbingan langsung dari Rasulullah SAW, karena qiraat Al-Qur'an bukanlah hasil ijtihad Nabi, melainkan kalamullah yang disampaikan kepada Rasulullah SAW melalui perantara Malaikat Jibril AS dan Rasulullah SAW sendiri yang mengajarkan berbagai qiraat ini kepada para sahabat, sehingga setiap bacaan memiliki sanad (rantai periwayatan) yang jelas dan otentik. Hal ini menjamin bahwa meskipun terdapat perbedaan dalam pelafalan, makna dan esensi Al-Qur'an tetap terjaga. 
    Dengan demikian, qiraat Al-Qur'an bukan sekadar variasi bacaan, tetapi juga mencerminkan kekayaan linguistik dan kebudayaan Arab pada masa turunnya Al-Qur'an. Hal ini juga menunjukkan betapa Islam memberikan kemudahan bagi umatnya tanpa mengorbankan keotentikan dan kesucian Al-Qur'an sebagai wahyu Allah SWT. Wallahu ‘Alam.
 
 
Darb dalil, Darrasah 19 Feb. 25
Muhammad Mi’raj. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

apa itu qiraah asyarah sugra dan kubra?

Bismillah...      Pada masa kekhalifaan Usman bin Affan periwayatan al-Qur’an dengan berbagai ragam bacaan nya telah menemukan titik terang nya pasca ditetapkan nya tiga kaidah baku yang telah ditetapkan oleh khalifah dan para tim penulis wahyu, terlebih saat beliau kembali memerintahkan para ulama delegasi beliau diutus kembali ke amsar,  baca: tujuh kota pusat perkembangan islam.   Ditangan para delegasi inilah kemudian lahirlah para imam qiraat sepuluh yang sampai pada kita hari ini, dimana dari kesepuluh imam tersebut terdapat dua murid yang masyhur dikalangan para ahlulqurra pada masa itu yang kemudian meriwayatkan dan kemudian memberikan kaidah bacaan yang mereka dapatkan dari gurunya, diantara mereka ada yang berguru secara langsung dan juga diantara mereka ada yang berguru melalui perantara, inilah yang disebut dengan periwayatan   bil washitah.  Penetapan para perawi ini berdasarkan kredibilitas dan juga kemasyhuran para perawi nya, sehigga ji...

Penamaan Surah-surah al-Qur'an, ijtihadi atau tauqifi?

Bismillah..  Al-Qur’an merupakan kitab suci yang didalam nya banyak terdapat kemukjizatan-kemukjizatan dari berbagai sisi, mulai dari sisi bahasa, rasm, urutan ayat serta surah-surah didalam nya, hal tersebut telah dibahas oleh para ulama hingga para cendikiawan-cendikiawan muslim dibidang nya masing-masing yang kemudian memberikan kesimpulan penegasan bahwa kitab suci al-Qur’an bukan lah hanya sekedar kitab bacaan yang dibaca siang dan malam, melainkan merupakan sebuah kitab yang dari permulaan hingga akhir bahasan nya penuh dengan kemukjizatan.               Termasuk juga diantara kemukjizatan nya ialah penamaan nya yang masih menjadi pembahasan yang cukup hangat dikalangan para pengkaji al-Qur’an hari ini, akan tetapi jauh sebelum itu para ulama terdahulu sudah lebih dulu membahas dan memberikan pandangan nya masing-masing dengan berlandaskan dalil-dalil yang kuat. Dari sana mereka memberikan dua simpulan yang berb...

Pembagian al-Qur'an menjadi beberapa Juz, Hizb, & Ruku'

Bismillah… Al-Qur’an merupakan mukjizat terbesar yang diturunkan Allah kepada Rasulullah Saw. Dengan berbagai kemukjizatan yang tersaji didalam nya baik dari segi uslub, bahasa, hingga  sastra, tak membuat para ulama cendikiawan berhenti dalam penelitian nya mengkaji al-Qur’an. Hingga pada tulisan kali ini kita akan sedikit membahas mengenai pembagian al-Qur’an menjadi beberapa bagian seperti pembagian yang kita kenal dengan istilah Juz, Hizb, ataupun Rubu’, dan Ruku’. Pada masa Rasulullah sendiri, pembagian-pembagian yang telah kita sebutkan belum ada pada masa itu, sehingga dalam beberapa Riwayat seperti pada Riwayat Aus ibn Hudzaifah dikatakan bahwa para sahabat membagi al-Qur’an menjadi tujuh bagian. Bagian yang  pertama  terbagi menjadi tiga surah, yaitu al-Baqarah, ali Imran, dan an-Nisa. Bagian  kedua  terbagi menjadi lima surah, yaitu al-Maidah, al-An’am, al-‘Araf, al-Anfal, dan at-Taubah. Bagian  ketiga  terbagi menjadi lima surah, yaitu ...