Bismillah..
Al-Qur’an merupakan kitab suci yang didalam nya banyak terdapat kemukjizatan-kemukjizatan dari berbagai sisi, mulai dari sisi bahasa, rasm, urutan ayat serta surah-surah didalam nya, hal tersebut telah dibahas oleh para ulama hingga para cendikiawan-cendikiawan muslim dibidang nya masing-masing yang kemudian memberikan kesimpulan penegasan bahwa kitab suci al-Qur’an bukan lah hanya sekedar kitab bacaan yang dibaca siang dan malam, melainkan merupakan sebuah kitab yang dari permulaan hingga akhir bahasan nya penuh dengan kemukjizatan.
Termasuk juga diantara kemukjizatan nya ialah penamaan nya yang masih menjadi pembahasan yang cukup hangat dikalangan para pengkaji al-Qur’an hari ini, akan tetapi jauh sebelum itu para ulama terdahulu sudah lebih dulu membahas dan memberikan pandangan nya masing-masing dengan berlandaskan dalil-dalil yang kuat. Dari sana mereka memberikan dua simpulan yang berbeda, sebagian mereka beranggapan bahwa penamaan surah-surah al-Qur’an bersifat ijtihad, sebagian lain berpendapat bersifat tauqifi, dan sebagian yang lain juga menengahkan kedua pendapat tersebut.
Penamaan surah didalam al-Qur’an
Didalam al-Qur’an terdapat 114 surah yang dimana setiap surah memiliki nama untuk dapat membedakan pengelompokan nya dengan surah-surah lain, penamaan ini diambil berdasarkan dari riwayat-riwayat hadist Rasulullah Saw, maka dari itu dapat disimpulkan bahwa penamaan ini bersifat tauqifi, dan jika dilihat dari riwayat-riwayat penamaan surah-surah al-Qur’an beberapa surah kadangkala memiliki lebih dari satu nama, hal tersebut dikarenakan riwayat mengenai penamaan surah tersebut juga lebih dari satu, dan dari riwayat-riwayat itulah kita bisa melihat bahwa penamaan surah tersebut kadang kala diambil dari luar surah dalam artian nama surah yang dijadikan sebagai nama tidak terdapat dalam surah itu sendiri, atau kadangkala penamaan tersebut diambil dari tema bahasan surah tersebut, atau juga kadangkala diambil dari salah satu lafadz atau kisah yang tersirat dalam surah tersebut. Akan tetapi ini tidak bersifat mutlaq karena dibeberapa surah seperti pada surah Hud didalam nya juga banyak membahas kisah nabi-nabi lain dan malah yang terpanjang diantara nya ialah kisah Nuh As.
Disisi lain ada pendapat dari kalangan ulama yang mengatakan bahwa penamaan surah-surah didalam al-Qur’an berdasarkan ijtihad dari para sahabat, hal tersebut dilandasi karena tidak ditemukan nya nama-nama surat tesebut pada awal surah dalam mushaf utsmaniah sebagaimana juga tidak adanya keterangan makki dan madani dan jumlah ayat dalam suatu surah dalam mushaf ustmaniah, jadi dapat disimpulkan bahwa hal-hal tersebut merupakan tambahan dalam penulisan mushaf ustmani saat ini sebagai keterangan tambahan atas surah tersebut.
Dalil yang lain yang dapat menguatkan pandangan ini ada dalam beberapa riwayat diantara nya riwayat dari sahabat Sa’id bin Jubair dikatakan :
هِيَ الْفَاضِحَةُ، مَا زَالَتْ تَنْزِلُ: وَمِنْهُمْ وَمِنْهُمْ، حَتَّى ظَنُّوا أَنْ لَا يَبْقَى مِنَّا أَحَدٌ إِلَّا ذُكِرَ فِيهَا. قَالَ قُلْتُ: سُورَةُ الْأَنْفَالِ؟ قَالَ: تِلْكَ سُورَةُ بَدْرٍ. قَالَ قُلْتُ: فَالْحَشْرُ؟ قَالَ: نَزَلَتْ فِي بَنِي النَّضِيرِ.
Artinya: Dari Sa'id bin Jubair, ia berkata: "Aku bertanya kepada Ibn Abbas: 'Bagaimana dengan Surah At-Tawbah?' Ia menjawab: 'At-Taubah? Sebenarnya itu adalah Al-Fadhihah (yang mengungkapkan keburukan), yang terus-menerus turun: "Dan di antara mereka dan di antara mereka," sampai-sampai mereka mengira tidak ada seorang pun dari kami yang tidak disebutkan di dalamnya.' Aku bertanya: 'Bagaimana dengan Surah Al-Anfal?' Ia menjawab: 'Itu adalah Surah Badar.' Aku bertanya: 'Bagaimana dengan Surah Al-Hashr?' Ia menjawab: 'Itu diturunkan tentang Bani Nadhir.'
Dalam riwayat ini, Sa'id bin Jubair mengajukan beberapa pertanyaan kepada Ibn Abbas mengenai nama-nama surat dalam Al-Qur'an dan konteks turunnya. Ibn Abbas, sebagai salah satu sahabat yang memiliki pengetahuan mendalam tentang Al-Qur'an, memberikan penjelasan mengenai nama-nama surat tersebut berdasarkan konteks sejarah dan isi surat.
- Surah At-Taubah: Ibn Abbas menyebutnya sebagai "Al-Fadhihah" (yang mengungkapkan keburukan), yang menunjukkan bahwa surat ini mengandung banyak ayat yang membahas tentang kemunafikan dan perilaku buruk dari sebagian orang. Ia juga menjelaskan bahwa surat ini terus-menerus diturunkan dengan menyebutkan berbagai kelompok yang terlibat, sehingga orang-orang pada masa itu merasa bahwa tidak ada seorang pun dari mereka yang tidak disebutkan dalam surat tersebut. Ini menunjukkan betapa pentingnya surat ini dalam mengungkapkan realitas yang dihadapi umat Islam pada waktu itu.
- Surah Al-Anfal: Ibn Abbas menyebutnya sebagai "Surah Badar," yang merujuk pada peristiwa Perang Badar yang sangat penting dalam sejarah Islam. Surat ini membahas tentang perang tersebut dan memberikan panduan serta pelajaran bagi umat Islam mengenai strategi dan keimanan.
- Surah Al-Hashr: Ibn Abbas menjelaskan bahwa surat ini diturunkan mengenai Bani Nadhir, salah satu kelompok Yahudi yang berkonflik dengan umat Islam. Penjelasan ini menunjukkan bahwa surat ini berisi konteks dan pelajaran yang berkaitan dengan interaksi antara umat Islam dan kelompok lain pada masa itu.
Dari penjelasan ini, kita dapat melihat bahwa Ibn Abbas menggunakan ijtihadnya untuk memberikan nama dan konteks pada surat-surat Al-Qur'an berdasarkan pemahaman dan pengalaman yang dimilikinya.
Dari dua pandangan diatas diantara para ulama ada yang menengahkan dari dua pendapat tersebut, mereka mengatakan beberapa surah penamaan nya bersifat tauqifi dari Rasulullah Saw karna memang tidak ada riwayat yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw menamai seluruh surah-surah didalam al-Qur’an melainkan hanya sebagian saja, adapun yang tidak disebutkan dalam riwayat maka penamaan nya bersifat ijtihadi para sahabat Ra dengan dalil dalil riwayat Sai’d bin Jubair.
Wallahu ‘Alam.
Muhammad Mi'raj
Darb Dalil, 06 Nov 2024
Komentar
Posting Komentar